Sekolah itu.. Candu!

Lalu apa yang lantas membuat kita bertahan (?)
-karena Sekolah itu.. Candu!

Sekolah Itu Candu- Roem Topatimasang


Depok, 15 Agustus 2015


“Setiap tempat adalah sekolah
Setiap orang adalah guru
Setiap buku adalah ilmu” Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu

Sebuah ungkapan yang pada akhirnya saya gunakan dalam sebuah closing statement pada sebuah mosi debat bertemakan pendidikan kala itu.


Saya kira Bang Roem  BERHASIL membuat satu bentukan karya tulis yang bergendre ilmiah dan humoris disisi yang lain. Membuat orang yang membacannya harus berpikir, kemudian tertawa sambil menangis miris menyadari kenyataan pahit dari wajah pendidikan Indonesia beberapa dekade ini.

“Paling sedikit duabelas tahun waktu dihabiskan untuk bersekolah. Masa yang lama dan menjemukan jika sekedar mengisinya dengan duduk, mencatat, mendengarkan guru berceramah di depan kelas, dan sesekali bermain. Sekolah memang bisa mencetak seseorang menjadi pejabat, tetapi juga penjahat"
Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu

yay, sebuah kutipan lain dari buku tersebut yang membuat saya sendiri enggan untuk menyanggah. Buku tersebut memaparkan bukti-bukti yang sulit untuk ditolak, salah satunya ialah kenyataan dimana dalam banyak kasus sekolah mampu menciptakan murid yang pintar, tapi tidak peka keadaan sekitar. Maka jadilah, pintar-pintar berdasi yang akhirnya masuk bui. Entah karena terlalu pintar menyusun anggaran akhir tahun dan sebagiannya tersusun dalam tabungan milik pribadi, terlalu pintar menyusun strategi jalan-jalan keluar negeri sembari gaji bulanan tetap menanti, atau sesederhana terlalu pintar dalam menyanggah agar tak perlu mengakui kesalahan sendiri. Kenyataan bahwa lebih mudah menjadi orang pintar ketimbang orang baik memang menjadi ungkapan umum dewasa ini.

Lantas mengapa? apa hubungannya dengan sekolah?


Jika kita bertanya mengapa? 

Maka jawaban mainstream ini mungkin ada benarnya : karena pendidikan yang ada saat ini mengajarkan para murid bagaimana mendapat nilai bagus, bukan bagaimana cara berproses yang bagus. Bagaimana caranya agar tidak salah, bukannya belajar dari kesalahan. Menjadikan tujuan akhir sekolah sekedar untuk mendapat pekerjaan berpenghasilan langit, bukan untuk mengabdikan diri dan menjadi insan yang bermoral tinggi.

Lalu apa hubungannya dengan sekolah? 

Hubungannya jelas, sekolah ditujukan untuk mencetak kader penerus bangsa yang cerdas juga bermoral, namun keadaannya.. institusi yang lazim disebut "sekolah" ini  sepertinya belum berhasil dikedua aspek tersebut secara bersamaan. Selebihnya mungkin kita bisa pikirkan masing-masing~

 


LUPAKAN SEMUA RETORIKA MAINSTREAM DIATAS!

Karena semua hal itu terlalu lazim dan sudah basi untuk kembali diungkit ungkit jika tak dikemas dalam diskusi sepaket solusi. Jadi lupakanlah, lupakan saja.

Hal diatas memang jadi suatu bahasan khusus dalam buku tersebut, namun yang menarik ialah kemampuan Bang Roem mengangkat detail  kasus-kasus yang ditimbulkan institusi sekolah dan sebenarnya wajib kita pertanyakan (?). Berikut beberapa studi kasus yang paling saya ingat dari perjalanan membaca buku sekolah itu candu :  (Bukan judul bab sebenarnya)



AJARAN RASIONAL-IRRASIONAL yang MEMBINGUNGKAN

 Sebuah bab dalam buku tersebut membuat saya cukup terkesima.Bab itu kira-kira berisi seperti ini.

Sekolah dengan tegas ingin menunjukan keberpihakannya pada rasionalitas, sehingga hal seperti ritual-ritual yang tidak berlandaskan logika menjadi sulit untuk diterima di institusi nan mulia ini. Namun disisi lain kecemasan demi kecemasan yang diciptakan sekolah menjadikan peserta didik tidak punya cara lain selain kembali pada ritual yang entah bermakna apa namun setidaknya mampu menenangkan mereka, dengan atau tanpa logika yang dapat dipertanggungjawabkan. Kala itu pada buku tersebut di pampangkan sebuah headline berita sebuah koran dimana seorang anak sebelum berangkat UN minta dilangkahi oleh ibunya, tujuannya agar lebih berkat katanya, dan masih banyak ritual lain yang acap kita dengar. Hal tersebut menjadi bukti, bahwa beberapa sistem di sekolah justru memaksa peserta didik untuk tidak menggunakan sisi rasionalitas mereka.



OPTIMIS-PESIMIS yang TAK KALAH MEMBINGUNGKAN

Isi bagian yang bab yang saya beri nama sendiri ini tak kalah membuat miris.

Sekolah menanamkan sikap optimis, namun disisi lain banyak siswa yang juga dibuat pesimis hingga berakhir pada tali pengait nyawa akibat institusi terhormat bernama sekolah ini. (Buku ini memberikan contoh tentang siswa yang mengakhiri hidupnya karna tak lulus UN)



USAHA TAK SELAMANYA BERBANDING LURUS dengan HASIL

Tak ada jaminan bahwa yang bersekolah akan mendapatkan masa depan lebih cerah, pekerjaan lebih baik, atau kewibawaan yang lebih besar, TIDAK ADA. Namun anehnya sekolah masih saja dijadikan labuhan akan segenap impian itu, meski dengan usaha yang sangat memilukan, meski tanpa ada yang bisa menjamin. (dalam buku tersebut diberikan gambaran anak-anak di pedalaman Indonesia yang tetap kukuh bersekolah meski harus menyeberangi sungai atau melintasi jarak yang amat jauh, walaupun mereka tau pada akhirnya mereka hanya akan meneruskan pekerjaan orang tua mereka saja nantinya)

"Masihkah pantas sekolah mengakui diri sebagai pemeran tunggal yang mencerdaskan dan memanusiakan seseorang?

Pertanyaan sederhana ini dikedepankan kepada mereka yang terutama masih sangat percaya pada keampuhan satu lembaga yang bernama SEKOLAH!”
Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu

SEKOLAH ITU.. CANDU!

Pada bab lain dari buku tersebut menyatakan, dibalik semua kemirisan itu ada hal yang patut kita renungkan mengapa sekolah masih menjadi primadona dan menjadi sandaran bagi banyak impian dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Karena di dalamnya para murid menemukan lingkungan dan teman senasib. Terus mencari makna dan merangkai cerita


        "Cewek paling cantik adalah cewek yang pake seragam"

Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu

Jadi apa yang membuat kita tetap bertahan dengan sekolah?
-Karena Sekolah itu.. Candu!-
*jika sudah candu, mengapa tidak kita buat kecanduan itu lebih bermakna (?)


 


























Komentar

  1. Terimakasih telah membaca-ulas buku INSISTPress. Rehal buku ikut ditaut-link ke: http://blog.insist.or.id/insistpress/arsip/7256

    BalasHapus
  2. Rehal buku ikut dilansirkan ke: http://insistpress.com/katalog/sekolah-itu-candu-edisi-tahun-2007/

    BalasHapus

Posting Komentar