Sebuah Surat : Buat Gadis Kecil Favorit Ayah

di dekat mesjid di daerah kab 50 kota
Hmm, sebenarnya ayah sangat canggung menuliskannya, tapi mari kita coba,

Tadi pagi ayah iseng melihat-lihat kamarmu, wah tropi MTQ mu mulai berdebu, jadi ayah bersihkan. Melihat tropi itu, ayah jadi ingat kamu waktu kecil.

Ayah ingat, dulu kamu selalu semangat pergi mengaji, selalu minta ikut ayah pergi sholat berjamaah ke masjid, iyaa ayah ingat, guru ngaji mu bilang suara dan bacaan mu yang terbaik. Tak heran, tropi itu sukses kamu bawa pulang

Ayah ingat juga, saat kecil kamu selalu senang mencabuti bulu kaki ayah, walaupun itu sakit, tapi ayah senang melihatmu tertawa girang.

Tapi suatu masa, kamu minta jajan lebih dari yang biasa. Setelah ayah tau, sehari berikutnya kamu keluar kamar memakai gincu merah muda dan parfum yang semerbak bau nya. Hah, sedikit demi sedikit kamu tumbuh jadi gadis dewasa, tapi ayah ingin kamu tau, kamu tetap gadis kecil favorit ayah bahkan tanpa gincu dan parfum itu.
Suatu kali, seorang lelaki sembunyi-sembunyi dari balik bunga taman depan, lalu kamu terburu-buru minta diberi izin keluar. Wah, jujur saja saat itu ayah membara, dan sepertinya mulai harus menerima, bahwa sejak saat itu ayah tidak lagi jadi lelaki tertampan buatmu.

Atau saat kamu menolak makan di ruang tengah untuk terbahak-bahak menelpon teman-teman putrimu yang lain, di dalam kamar. Ya, itu saat dunia mu benar sudah sulit diusik.


Ayah ingin minta maaf, sudah terlalu jauh rasanya, saat kamu tumbuh dewasa, ayah juga terlalu sibuk mendewasakan proyek kerja atau apalah itu namanya. Hingga banyak waktu terlewat, dan kita semakin jauh. Hingga untuk mengatakan hal ini saja, ayah tak lagi bernyali.


Buat gadis kecil favorit ayah, jika masih mungkin, ayah ingin berjalan berdua dengan mu, mengikat tali sepatu mu yang terlepas di dekat danau, menggenggam tangan kecil mu yang menggemaskan dan meilhatmu mu berlari kegirangan menangkap capung di alang-alang.


Buat gadis kecil favorit ayah, jika kamu tak keberatan, ayah sungguh ingin tau, laki-laki mana itu yang berani-beraninya membuatmu menangis sembab di pagi buta.


Buat gadis kecil favorit ayah, ayah tau tak mungkin selamanya kamu jadi gadis kecil, tapi jika boleh,

Ayah ingin mendengar suaramu di telepon dan bercerita tentang betapa menjemukannya kuliah di negeri orang disana itu, menghabiskan waktu dengan mu, lebih lama, dan sedikit lebih lama lagi.

Oiya, bagaimana kabarmu nak?


(lalu surat itu dilipat, dimasukkan kedalam kotak, dan disimpan entah sampai kapan)

Repost Instagram 4 Agustus 2017


Komentar

Postingan Populer