Bulan (tak) pernah bertanya
Setelah kita paham, di dunia ini tidak semua bertindak sesuai ucapannya,
dan fakta itu kini tak lagi perlu diterima dengan sedih hati
Di kamar kita yang biasa, 27 Mei 2020.
Setelah ngubek-ngubek buku lama (biar tulisan ini bisa sekalian di arsip)
Stasiun Waleri, 9 Oktober 2019
Bulan tidak pernah bertanya
Mengapa Tuhan menciptakannya redup
Bulan tidak pernah bertanya
Mengapa awan disekitarnya berwarna gelap
Bulan tidak pernah bertanya
Alasan kehadirannya yang sesekali
Bulan tidak pernah bertanya
Malam-malam dingin dimana tak seorangpun berdiri memandangi
Bulan tidak pernah bertanya
Apa yang membuatnya harus berbagi panggung dengan bintang dan galaksi
Bulan tidak perna bertanya
Makna dari takdir kehadirannya yang tidak selalu utuh, berubah, dan kemudian tiada
Bulan hanya bertanya
Siapa itu hamba yang mulutnya mengucap syukur, kala melihatnya barang sekejap saja
dan fakta itu kini tak lagi perlu diterima dengan sedih hati
Di kamar kita yang biasa, 27 Mei 2020.
Setelah ngubek-ngubek buku lama (biar tulisan ini bisa sekalian di arsip)
Stasiun Waleri, 9 Oktober 2019
Bulan tidak pernah bertanya
Mengapa Tuhan menciptakannya redup
Bulan tidak pernah bertanya
Mengapa awan disekitarnya berwarna gelap
Bulan tidak pernah bertanya
Alasan kehadirannya yang sesekali
Bulan tidak pernah bertanya
Malam-malam dingin dimana tak seorangpun berdiri memandangi
Bulan tidak pernah bertanya
Apa yang membuatnya harus berbagi panggung dengan bintang dan galaksi
Bulan tidak perna bertanya
Makna dari takdir kehadirannya yang tidak selalu utuh, berubah, dan kemudian tiada
Bulan hanya bertanya
Siapa itu hamba yang mulutnya mengucap syukur, kala melihatnya barang sekejap saja
hanya yang cukup tulus yang mampu melihat senyum bulan itu pada pantulan matahati setiap harinya |
Komentar
Posting Komentar