"Pretty Hurts": Ketika Beyonce Bicara Anoreksia



"Pretty Hurts" salah satu lagu pentolan Beyonce yang rilis tahun 2013, barangkali tidak asing lagi di telinga para penggemar setianya. Penyanyi berkulit eksotis yang tiga tahun lalu sempat masuk 100 orang paling berpengaruh versi majarah
Time ini sukses membawakan lagu bergendre R&B karangan Sia Fuler, hingga memenangkan banyak penghargaan.
Pasalnya lagu "Pretty Hurts" tak dapat ditampik berbeda dengan kebanyakan lagu bergendre sejenis yang Fuler ciptakan. Alasannya, karena lirik dari lagu tersebut sarat akan pesan moral. Tak heran, pada tahun pertamanya, lagu ini sukses merain penghargaan Best Song with A Social Message di ajang Europe MTV Music Award 2014.
"Menjadi cantik itu menyakitkan", kira-kira seperti itulah terjemahan dari ungkapan pretty hurts dalam lagu ini. Mengambil latar belakang sebuah kontes kecantikan, Beyonce beserta tim, lewat video klipnya berusaha menampilkan sisi gelap dari kontes kecantikan yang menjadi salah satu tontonan bergengsi di televisi.
Frustasi lantaran sulitnya mendapatkan bentuk tubuh ideal adalah salah satu fokus utama dari dark side yang ingin ditampilkan dalam lirik maupun video klip dari lagu yang pernah menduduki top chart musik di Amerika Serikat tahun 2014 lalu ini. Rutin melakukan olahraga, menjalankan ritual menelan kapas, hingga melaksanakan serangkaian jadwal operasi adalah hal-hal menyakitkan yang terjadi di balik layar sebuah kontes kecantikan. Setidaknya, begitulah penggambaran dalam video klip lagu  yang juga mendapatkan penghargaan Best video with A  Message dan Best Cinematographi di ajang MTV Music Award 2014 ini.
"Mama said 'you're pretty girl'
What's in your head it doesn't matter
Brush your hair, fix your teeth
All you wear its all that matters"
Kutipan paragraf pertama lagu ini dengan lugas mengatakan bahwa apa yang terlihat dari luar (penampilan fisik) saat ini jauh lebih diperhitungkan dibanding apa yang ada di dalam (pemikiran, kecerdasan, dan hati).
"Blonder hair, flat chest
TV says 'bigger is better'
South beach, sugar free
Vogue says 'thinner is better' "
Pada bagian kedua setelah reff, dengan lantang lagu ini menyuarakan bagaimana kehidupan sosial saat ini telah mengkotak-kotakkan makna dan ciri-ciri dari perempuan yang cantik. Memiliki tubuh yang kurus dan langsing adalah salah satu ciri tersebut, hal yang kiranya mengilhami banyaknya perempuan, khususnya remaja putri, saat ini agar terus mendapatkan tubuh kurus nan ideal tersebut dengan segala cara. Alasannya sederhana, agar predikat cantik tersebut sukses didapatkan.
Hal ini sangat berhubungan dengan suatu gejala yang kini tengah marak di kalangan gadis di seluruh dunia, sebuah kecendrungan atas perilaku makan yang menyimpang akibat keinginan agar mendapatkan tubuh ideal selayaknya model-model di televisi. Yap, mari berkenalan dengan si ganas anoreksia.
Anoreksia atau  anoreksia nervosa merupakan gangguan psikologis berupa penyimpangan pada perilaku makan yang ditandai dengan ketakutan berlebihan terhadap berat badan. Penderitanya cenderung membatasi asupan makanan yang disertai pelaksanaan diet yang amat ketat.
Anoreksia yang merupakan salah satu di antara tiga kecendrungan perilaku makan menyimpang ini menjadi cukup serius karena mampu membuat penderitanya mengalami  kekurangan gizi, gangguan lambung, ataupun penyakit jantung koroner (Hapsari, 2009) yang akhirnya akan berdampak pada melemahnya sistem imunitas dan tak jarang berakhir dengan kematian.
Meskipun kecendrungan munculnya anoreksia menunjukkan angka yang tinggi di kalangan model, namun dalam penelitian terbaru yang dilakukan di Amerika,  diketahui bahwa saat ini kecendrungan penderita anoreksia sudah tersebar hampir di semua kalangan perempuan remaja hingga dewasa. Di Amerika Serikat, dari sebuah penelitian yang dilaksanakan Commite of Adolecent menyatakan, sekitar 0,5% dari seluruh remaja perempuan di Amerika diindikasi menderita anoreksia.
Disusul oleh peneletian lain yang mengatakan bahwa ada 1% perempuan dewasa Amerika dengan indikasi penyakit yang sama. Treasure and Murphi (2005) dalam penelitiannya juga menemukan setidaknya ada 7 kasus anoreksia dari 100.000 populasi di negara-negara barat, sementara ditemukan tidak kurang 4000 angka kemunculan kasus baru anoreksia di Inggris dan terus menigkat hingga saat ini, sedangkan angka yang lebih kecil ditemukan di negara-negara timur (Hapsari, 2009).
Angka kematian akibat anoreksia, berdasarkan penelitian Kohort dalam kurun waktu 10 tahun di sebuah rumah sakit, ditemukan mencapai 6,6%, di mana penderitanya memiliki 12x risiko kematian yang lebih tinggi dibanding bukan penderita.
Tingginya kasus anoreksia di negara-negara barat dilaporkan akibat adanya pengaruh faktor gaya hidup dan media masa yang mengekspos produk kecantikan dan pakaian yang digunakan model-model yang bertubuh kurus (Hapsari, 2009). Penyebaran penyakit ini makin meluas di negara-negara timur seperti Jepang, dan negara berkembang seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
Di Indonesia sendiri, belum banyak dilakukan penelitian maupun pendataan terhadap jumlah kasus penderita anoreksia. Meskipun begitu, berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan Syafiq dan Tania (2009)  terhadap remaja putri di Jakarta, ditemukan bahwa 11,6% remaja di Jakarta terindikasi perilaku makan menyimpang atau anoreksia.

Terdapat beberapa faktor, menurut jurnal Hapsari (2005), yang dapat dijadikan penyebab dari kemunculan anoreksia. Latar belakang etnis, kebiasaan makan keluarga, usia dan jenis kelamin, pengaruh citra tubuh dan konsep diri, stres, pengaruh media masa, pengalaman pelecehan seksual di masa lalu, pola asuh keluarga, pengalaman anggota keluarga yang bermasalah dengan berat badan, faktor sosial ekonomi, teman sebaya serta tuntutan pekerjaan, hingga faktor genetis adalah beberapa dari banyaknya faktor yang menyebabkan seseorang dapat mengidap anoreksia.

Seseorang yang menderita anoreksia dengan mudah akan kehilangan gambaran nyata tentang tubuhnya. Saat melihat cermin, ia selalu melihat dan menilai bahwa tubuhnya sangat gendut, meski sebenarnya ia telah menjadi sangat kurus dan memiliki bobot tubuh yang jauh di bawah batas normalnya.

Gejala yang lazim dimunculkan, antara lain penurunan berat badan yang drastis dalam waktu yang sangat singkat, menimbang berat badan hampir setiap saat, berdiri di depan cermin dan menyatakan ketidakpuasan terhadap bentuk tubuhnya, sering kali mudah tersinggung dengan pembicaraan yang berkaitan dengan berat badan, memuntahkan makanan yang baru dimakan, berbohong dengan mengatakan sudah makan, meminum obat pencahar atau penekan nafsu makan, dan dalam keadaan akut, penderita bahkan sampai depresi dan melukai diri sendiri (beritasehat.co.id).

Paparan media saat ini yang seolah mengampanyekan bahwa "cantik itu mesti kurus" tampaknya memang agak menyimpang dari konsep keberagaman yang seharusnya dijunjung oleh seluruh manusia di mana saja berada. Menilai manusia, terutama perempuan, dengan aspek kecantikan yang senantiasa mengiringinya sekadar dari tampilan fisik tak ayal menjadi tindakan yang tak dapat dikatakan cerdas. Ini mengingat masih begitu banyak aspek lain dari diri perempuan yang akhirnya bisa digunakan untuk memberi label "cantik" pada dirinya.

Begitu pula untuk Anda atau siapa pun itu yang merasa perlu lebih kurus dan lebih kurus lagi setiap harinya demi dapat menyamai model-model yang sesungguhnya sangat tersiksa dengan label cantik yang mereka punya. Sebelum memutuskan untuk memuntahkan makanan, menimbang berat tubuh setiap saat, dan memandang tubuh di hadapan cermin dengan penuh kekecewaan, seperti dalam salah satu lirik lagu pretty hurts, ada baiknya jika kita menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu "Are you happy with yourself?"
Bahagiakah kita saat melakukan itu semua? Melakukan serangkaian cara yang melelahkan bahkan menyakitkan hanya untuk mendapatkan label cantik dari segelintir orang, yang terlalu sempit dalam mendefenisikan arti cantik itu sendiri. Jadi, mulai saat ini, maukah kita menjadi lebih dewasa dengan tidak mengkotak-kotakkan makna cantik, sekadar dengan apa yang terlihat oleh mata? Semoga.

"Pretty Hurts, Shine the light in whatever's worst ;
Perfection is a desease of a nation
Trying to fix something but you can't fix what you can't see
It's the soul that need the surger
y"




Referensi:
Hapsari, I (2009), Hubungan Faktor Personal dan Faktor Lingkungan dengan Kecenderungan Perilaku Makan Menyimpang, lib.ui.ac.id, 2017.
Beritasehat.co.id

Sumber gambar: Genius

(Repost Jurnal Selasar 8 Agustus 2017)

Komentar

Postingan Populer